Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Monday, May 7, 2018

Abu Abu

0 comments
Satu

Dua

Delapan

Berimpit di antara semua warna.
Tercampur hingga tak kasat mata.
Menggambarkan titik nol, dari ataupun menuju.
Hanya satu abstrak yang tak terucap kata.

Ketika terlalu banyak mengambil salah langkah.
Berada pada buku yang sama namun lain halaman.
Atau lembar yang sama pada karya yang berbeda..
Di antara dua hal yang berlawanan.

Satu keputusan, memutuskan asa.
Memungkiri keunggulan lawan di atas kertas.
Untuk pengakuan yang tersebar di luar sana.
Mewakili delapan titik tanpa batas.

Saturday, November 18, 2017

Kita Dan Kata

0 comments
Membungkam berhadapan kursi tak bernyawa.
Hujan terbahak dengan gemuruhnya.
Bertukar cerita dengan kopi melalui nadi.
Terlalu erat dipeluk sunyi.

Tanpa saksi hanya angin di beranda.
Hanya ukiran lalu menghias tanpa nada.
Bahwasanya mereka berbincang tanpa suara.
Rahasia rindu yang dibalut lara.

Detik berlari dengan kilat.
Meretas memori dalam kotak cokelat.
Bayangan pencipta elegi.
Merasuki akal sehat hingga terbunuh mati.

Pada sumpah dunia berada,
Rasa yang terbaring di atas keranda.
Bertingkah agung setara artis.
Belaka diam bertenggang puitis.

- SDA x Arch -

Friday, April 28, 2017

Pertigaan

0 comments
Cerita ini hanya didengar oleh aku dan secangkir kopi
Dua baris paragraf yang mengisahkan bingkisan bercorak magenta.
Empat bangku dengan dua orang di seberang dan berkawankan sepi.
Mereka bersua sedangkan aku mati dibunuh kata.

Telah tiba hari di mana nurani sampai di pertigaan.
Antara ladang kering atau tanah penuh genangan.
Tertera tanda memutar balik yang dapat menjadi pilihan.
Kaki terpaku pilu, kaku tak mampu berjalan.

Ratusan konsultasi dilancarkan kepada seorang insan.
Bukan rayuan, bukan keluhan, bukan juga roman picisan.
Hanya rintihan, selingan perputaran roda kehidupan.
Ini baru permulaan, di ujung sana terdapat titik persekutuan.

Wednesday, December 21, 2016

Fakta Dan Citra

0 comments
Bahwasanya mendiang memori pernah hidup bukan untuk kita.
Cukup guratan pasif pada layar polos tak dapat dikembalikan.
Menghambakan diri pada tahta terperangkap dalam sepuluh suku kata.
Pertama kali murka di mana setiap sudut menjadi korban ratusan hentakan.

"Buka tirai itu kemudian pecahkan kacanya!"

Seru nona penghasut tanda tanya.
"Genggam setiap kepingannya selagi aku tertawa!"

Kalimat itu menusuk dari telapak tangan hingga dasar jiwa.

Senar ini telah lelah menjadi perantara kasih yang menyimpang.
Pertemuan antara hangatnya pelukan dengan sakitnya pengkhianatan.
Apa yang nona itu katakan berseberangan dengan fakta yang terpampang.
Beliau hanya tidak mengerti batas rentan setiap orang memiliki tingkatan.

Apa harga yang ditawarkan kepadanya terlalu rendah?
Mungkinkah semua kekaguman terdahulu hanya sekadar belaka?
Kepuasan kami adalah ketika mereka sendiri yang menelan ludah.
Kenyataan terungkap ketika kedua telinga tertutup dan mata menyetujui,
Ternyata: petaka.

Saturday, November 26, 2016

Para Pematri Rindu

0 comments
Ornamen berupa harga diri yang mustahil untuk dilepaskan.
Goresan tinta yang luntur karena munculnya awan hitam.
Pusaka langit membobol arti kedewasaan.
Bukan salah para pematri rindu apabila muncul langit yang kelam.

Nyata namun tak tampak, jarak yang mengikis rasa
Bila hanya memimpikan, aku bukan untuk dipamerkan
Dia yang dikenal, sebuah momen yang emosional.
Bukan merupakan pesan, hanya sebuah tulisan.

Paragraf terakhir mencoba menghantui setiap malam.
Buruknya memori mengubah insan dalam sejentik jari.
Ia tiba setiap senja bukan untuk menyampaikan salam.
Melainkan sebuah pengingat bahwa tidak bisa melarikan diri.

Mencoba memimpin pada hari itu dan mereka menatap.
Sosok petinggi tidak menampakkan batang hidungnya.
Sudah setahun lebih menguat dan tidak meratap.
Mungkin hanya inilah yang mereka punya.

Friday, September 30, 2016

Paragraf Penutup

0 comments
Ini cerita ketika kubuat sebuah buku.
Buku ini bercerita tentang lirik lagu, tanda tanya, juga untaian rindu.
Tulisan ini dibuat karena aku telah berhenti mencampuri urusanmu.
Kini telah sampai penutup dan kau layak berada pada bab terima kasihku.

Mungkin saja kita - kami - kau, telah memilih.
Sengaja menunda demi ratusan ejaan yang salah tanpa pamrih.
Perjalanan ini akan (kucoba) kuselesaikan meski tertatih.
Suatu hari kita akan membacanya, hanya tertawa lirih dan itu pedih.

Karena kita membacanya dari dua sisi yang berbeda.
Orang lain melihat bahwa terdapat dua versi, namun senada.
Ketika dipaparkan akan mementahkan seluruh teori yang ada.
Bahkan muncul ribuan umat yang melontarkan kata "daripada".

Menyadarkan mereka kalau bumi ini pun memiliki dua kutub.
Mencegah pertikaian konstan antara logika dan perasaan namun tak sanggup.
Melupakan dari dulu seperti apa yang namanya hidup.
Mungkin goresan darah yang akan kumunculkan sebagai penutup.

Thursday, June 16, 2016

Sekadar Cerita

0 comments
Percikan nada di dalam sebuah lingkaran
Membawa lebih dalam lagi ke arti sebuah kata
Berhati-hati ketika memainkan sebuah peran
Kita pernah lebih dari sekadar cerita

Perlahan matahari kembali ke peraduan
Menyambut jingga menuju malam
Bersama munculnya sesosok perempuan
Pilihan masa depan antara cerah atau kelam

Lima tahun berjalan bersama pecinta hujan
Sebuah payung dan instrumen pemanggil rindu
Yang terpancar dari jendela itu lebih dari sekadar kenangan
Tidak punya arah dan tempat untuk mengadu

Kukirim kutukan ini untuk kau simpan
Bukalah sesekali untuk mengingat
Kisah yang pernah kita jalani penuh dengan penyesalan
Atau mungkin, hanya aku yang tersesat

Sunday, January 24, 2016

Penjahat Itu Bernama Jarak II

0 comments
Bukan hanya kepadaku, tetapi juga untuk orang di sekitarku
Niat terbentuk seketika, membentuk membujur kaku
Mengadakan kebutuhan dan keinginan
Walau semua hanya akan menjadi angan

Sekitar satu bulan, namun lebih dari satu tujuan
Kelemahan para lelaki berparas perempuan
Tidakkah kau akan pernah merasa puas, Tuan?
Tak akan memiliki suatu acuan

Mungkin akan berakhir dan ku tetap terdiam
Besar kemungkinan bicara, meski hanya satu arah
Namun itu lebih baik daripada suasana mencekam
Ketika momen yang diharapkan akan semakin parah

Kebenaran tersebut mengubah sudut pandang
Aku terhenyak dan kabur dengan suara lantang
Dari sekadar mengagumi dan hanya menandingi
Rasa yang terbentuk dan ingin melindungi

Sunday, October 11, 2015

Sebuah Lingkaran di Dalam Sebuah Lingkaran

0 comments
Tanda.
Dua senjata pembunuh perlahan di kedua tangan.
Tak ada yang tahu semua ini palsu.
Tak ada nafsu.
Tak ada emosi.
Ada, namun mengalir.
Mengalir dan tanpa sebab.

Tak ingin beribadah.
Tak ingin mengangkat badan.
Tak ingin menari.
Tak ingin bertengkar.
Tak ingin belajar.
Tak ingin menendang.
Tak ingin bergerak.
Tak akan bersuara.
Tak punya siapa-siapa.

Tak ingin hidup.
Tak ingin hidup.
Tak ingin hidup.
Tak ingin hidup.
Tak ingin hidup.
Tak ingin.... hidup.

Ini tanda, ini belaka, ini celaka.
Sampai akhirnya,
sampai jumpa.

Thursday, September 3, 2015

Tiada Matahari

0 comments
Ya, hari ini juga hujan.
Cucian hari ini pun susah untuk kering.
Terperangkap dalam kotak sederhana.
Hari ini serba merah dan sedikit terlambat.

Semudah itu mengatakan,
"Setidaknya aku sudah meminta maaf."

Indahnya paras membuat lupa bahwa ini dunia fana.
Sekaligus semudah itu berbuat kesalahan.
Kita berpindah kamar namun tak bergerak kemana-mana.
Entah apa yang direncanakan untuk kaum Adam dan Hawa,
oleh Tuhan.

Selalu tentang harta, tahta, wanita.
Berpura-pura tidak peduli, seakan tak acuh.
Sampai kapan?

Janjikan satu hal;
Namun bukan hari ini.

Tuesday, July 28, 2015

Menjemput Mentari

0 comments
Kamu, kami dan seluruh gelombang yang berdiri.
Celah sempit dari balik pintu yang menjemput mentari.
Datang dengan kebisuan namun diam-diam menyengat.
Di antara panas dengan arah dan koordinat.

Sekian langkah pada jemari penggenggam hati.
Berlari sekian jauh hanya untuk diam di tempat, lalu? Mati.
Peti kayu berselimutkan keraguan berlapis tiga papan.
Sampai akhirnya tidak bisa membedakan belakang dan depan.

Tersulut api cemburu hingga kepala ini meledak.
Kau dan mereka berhasil apabila memang ingin membuat tersedak,
Tersengat listrik pada beberapa titik vital yang saling berbagi.
Kami.... Bukan. Aku, tidak dapat menahannya lagi,

Ketika sampai atau melampaui titik jenuh.
Baik pada keadaan setengah terisi, atau setengah penuh.
Tak akan keluar,
Tertutup pintu ini malam ataupun pagi.
Aku memutuskan untuk pergi dan tak akan kembali lagi.

Thursday, July 9, 2015

Penjahat Itu Bernama Jarak

0 comments
Bukan tentang angka ataupun ukuran.
Fisik tidak membatasi langkah serta panjangnya jalan.
Terkadang jauh berarti dekat, berlaku pula sebaliknya.
Jangan artikan secara harafiah penuh tanda tanya.

Lintas pulau bisa memiliki banyak arti, bahkan pelajaran.
Tergantung sejauh apa pendekatan dan perjuangan.
Sejengkal bisa sepenuhnya membisu tanpa percakapan.
Bilamana memang memutuskan atau tidak memiliki ikatan.

Tanah rantau dengan beberapa luka.
Kata dan kalimat yang merupakan kicauan belaka.
Bukan pedang ataupun senjata pusaka.
Aku -kita- berada di paling atas lalu terjatuh seketika.

Terbawa alunan syahdu berisi cacian.
Senandung maaf memicu paru-paru dengan sedikit sentakan.
Membawa arti puluhan bahkan ratusan tahun kemudian.

Bahwa jiwa ini bukan lintasan garis terakhir.
Hanya sebuah tempat pemberhentian sementara.
Bagian kecil bab dari sebuah buku.
Ketika kuanggap dia judul sampai kalimat penutup. 

Tuesday, June 16, 2015

Mata, Sendi dan Ekspresi

0 comments
Image result for i origins

Kamu pernah melihat mata seseorang?
Ini pertanyaan retorika, tak usah dijawab.
Pertanyaan sebenarnya;
Kamu pernah benar-benar melihat mata seseorang?

Ada yang bilang mata terhubung dengan jiwa, di manapun ia berada.
Mata menunjukkan ketulusan, kejujuran, kemunafikan seseorang, semua orang.
Pergerakan seluruh otot, syaraf bahkan ujung rambut;
Semua berawal dari mata.

Ketika mulut berkata bahwa ia paling benar,
Maka mata akan bereaksi apakah itu menyetujui atau bahkan menyangkalnya.
Akan diteruskan lagi ke seluruh tubuh dari seorang insan.
Bahkan, membaca detak jantung.

Air mata? Jangan pernah salahkan air mata.
Semudah membaca apakah air mata itu jatuh;
Melalui mata sebelah kanan, ataupun sebelah kiri.
Semuanya terbaca. Sangat jelas.

Dari situ, mata membaca waktu.
Waktu yang tepat, sampai eksekusinya.
Mata akan berbicara lebih dari seseorang itu sendiri.
Sampai kelopak akan menghalangi semua visual,
Baik sementara,
Ataupun selamanya.

Wednesday, June 10, 2015

Letak Kesendirian

0 comments
Tiada yang mengetahui, bahkan kesepian itu sendiri.
Apa artinya sendiri?
Tidak bersama orang lain; itu sepengetahuanku.
Jadi, maksudnya waktu sendiri itu apa?
Waktu bersama orang lain? Loh, tidak sendiri dong?
Kalau begitu, apa sendiri = bersama orang lain?

Ini membingungkan.
Entah telingaku yang salah, atau otakku yang agak meragu.
Atau mungkin, hanya aku yang salah menginterpretasikannya.

Jadi, di mana letak kesendirian itu?
Di kepala?
Di dalam dada?
Di otak sebelah kanan?
Di dalam hati nurani?
Di sepanjang pembuluh darah?

Aku meminta untuk kau bercermin. Kau meminta balik untuk aku bercermin.
Dengan licik aku mengintip. Aku melihat kau bercermin dari kejauhan.
Apa yang kulihat?
Aku melihat aku yang dulu, di dalam refleksimu, jauh di dalam matamu....
Jauh di dalam benakmu.

Bukan, hal itu bukan sendiri.
Bukan kesendirian, maupun kesepian.
Itu pelampiasan.

Tuesday, May 26, 2015

Mungkin

0 comments
Mungkin;
Aku lupa caranya mencintai.
Bukan berprasangka buruk, hanya khawatir.
Kau yang pertama, dalam sesuatu yang krusial,
atau mayoritas orang pikir itu sakral.

Aku tidak ingin semua terjadi untuk kedua kalinya.
Tolong, kita prioritaskan proses dan bukan hasil.
Kita melangkah dengan nada yang berbeda,
tapi saling mengharmoniskan.

Tolong aku, aku terjebak.
Tuntun aku, aku tersesat.

Sudah lama tidak merasakan terbakar cemburu.
Lama tidak merasakan sakit karena kaum hawa.
Lama tidak merasakan ketirnya air mata.
Sudah lama tidak.... merasakan.

Tolong. Aku di depan pintu ini.
Jangan biarkan tangan ini mengambang,
yang ditujukan menjemputmu.
Di sebuah ruangan hangat yang lama tidak terjangkau.

Aku mendekati akhir, lagi.
Jangan biarkan ini berakhir.
Aku sayang kamu, dan nyawaku.
Yang saat ini sangat mudah hilang dan diambil,

Mungkin.

Monday, February 16, 2015

Kamu; Munafik

0 comments
Ya, kau tidak (hanya) membandingkan.
Kau merendahkan,
Kau menjelekkan,
Kau menghina,
Kau menginjak-injak.

Kehadirannya;
Menghapus semua kehadiranku,
Membuatmu lupa semua niat baikku,
Yang kau ingat hanya semua cacatku,
Kau lupa kita yang saling membentuk diri kita yang sekarang.

Aku hanya ingin kamu sedikit di depanku, namun tetap di sampingku.
Tuntun aku,
Genggam tanganku,
Hilangkan semua gundah dengan senyummu,
Sayangi aku.

Atau mungkin kamu lupa;
Bahwa pria bukan makhluk yang kebal,
Bahwa jarak itu kejam,
.... dan kamu memutuskan pergi meninggalkan,
.... dan bukan menetap.

Berbicara tentang jarak;
Kau memanfaatkan jarak,
Kau memilih yang ada,
Kau menyerah.

Mungkin kamu membenci flashback, tapi;
Apa kau lupa mengapa aku merantau?
Apa kau lupa itu semua untukmu?
Mengapa tidak kau cegah?
Apa yang harus aku ubah?
Apa (saja) yang kau lihat dari orang lain dan tidak ada padaku?
Mengapa membisu?

Mengapa? Memilih menjadi perwujudan sempurna dari kata munafik?

Saturday, September 20, 2014

Ketika Kau Yang Membedakan Kita

0 comments
Kau yang menyangkal, kau yang menjauh, serta kau yang meminta
Kau yang membedakan aku, kamu dan kita
Frekuensi suara ini tak lagi terjangkau di gendang telingamu
Derap langkah paralel, seirama namun tak pernah bertemu

Mereka terhanyut meski ini hanya sekadar pemberitahuan
Perdebatan antara lebih dari dua orang dan mereka semua berkepala batu
Hanya mencoba merapat, menyusuri dan menghilang perlahan
Dan musuhku pun bermunculan satu-persatu

Ini bukan tentang kehilangan, ini tentang pengkhianatan
Seperti yang telah kubilang, kata 'maaf' itu sakral
Karena bukan hanya telinga, batin pun ikut menyaksikan
Sebaiknya jaga setiap lisanmu, karena yang akan keluar adalah kekal

Walaupun jatuhnya perlahan, namun pasti
Mungkin lebih buruk dari sekedar kematian
Di depan layar ataupun cermin, itu bukan refleksi
Melainkan sebuah muatan negatif
Dan kau; Naif

Saturday, August 30, 2014

Mencoba Kembali

0 comments
Karena celah itu satu-satunya penglihatan,
Untuk memantau ketidakberadaanmu
Sepertinya mereka telah menaruh curiga
Menatapku tidak suka.

Mereka tidak mengerti, itu hari terakhirku
Hari itu panas,
Terlebih lagi seorang pria yang terduduk di depan terasmu
Anak-anak kecil yang bermain
Pria setengah baya yang memanskan mobilnya
Sekelompok anak muda yang berkumpul
Aku hanya bisa menunggu mereka masuk rumah mereka

Aku bahkan tidak tahu apa kau menerimanya
Bangau-bangau itu yang bahkan lebih banyak dari umurmu
Aku melihat ke belakang, seorang wanita melihatku turun
Ke jalan, ke perantauan, semuanya semakin pudar

Percayalah
Aku hanya mencoba kembali,
Kepada pelukan hangatmu
Kepada celah jari kita yang saling mengisi
Kepada tawa kita yang membuatku enggan untuk pulang,
Ataupun memulangkanmu

Percayalah
Ketika mata kita bertemu lagi,
Tak akan ada lagi bentakan
Tak akan ada lagi balas-membalas
Tak akan ada lagi canda yang tidak diperlukan

Sebutlah
Apa yang kau ingin rubah dariku
Hadiah apa yang kau inginkan setiap minggunya
Film apa yang akan kita saksikan
Hari apa yang kau inginkan untuk aku pulang

Ketika semuanya seperti sedia kala
Pundakmu akan jadi satu-satunya yang pernah menerima air mata ini

Tuesday, August 12, 2014

Sempurna

0 comments
Sempurna adalah kebohongan
Sempurna adalah penyangkalan
Sempurna adalah kesombongan
Sempurna adalah fatamorgana


Sempurna itu; dinamis
 

Sempurna adalah kekhilafan
Sempurna adalah mimpi
Sempurna adalah kesinambungan
Sempurna adalah ketidakmampuan
 

Sempurna itu; klise
 

Sempurna adalah kambing hitam
Sempurna adalah kelemahan
Sempurna adalah perspektif
Sempurna adalah pertahanan


"Ketika kamu mencari yang sempurna, kamu akan kehilangan yang terbaik"

Sunday, June 8, 2014

Dari-Dan-Untuk

0 comments

Yang terhormat, pecundang kehidupan



Kami takut pada yang tidak memiliki wujud

Kami hanya mengetahui kalimat mereka muncul dari atas sana

Kami yang ingkar pada tata tertib

Kami dengan dengki memotong pembicaraan

Kami memandu pertikaian

Kami hidup dan melangkah dengan kaki kami, sendiri



Kami mencuri arti, kami mencuri ideologi

Kami semu, kami tak memahami, kami tidak berdaya