Sunday, October 11, 2015

Sebuah Lingkaran di Dalam Sebuah Lingkaran

0 comments
Tanda.
Dua senjata pembunuh perlahan di kedua tangan.
Tak ada yang tahu semua ini palsu.
Tak ada nafsu.
Tak ada emosi.
Ada, namun mengalir.
Mengalir dan tanpa sebab.

Tak ingin beribadah.
Tak ingin mengangkat badan.
Tak ingin menari.
Tak ingin bertengkar.
Tak ingin belajar.
Tak ingin menendang.
Tak ingin bergerak.
Tak akan bersuara.
Tak punya siapa-siapa.

Tak ingin hidup.
Tak ingin hidup.
Tak ingin hidup.
Tak ingin hidup.
Tak ingin hidup.
Tak ingin.... hidup.

Ini tanda, ini belaka, ini celaka.
Sampai akhirnya,
sampai jumpa.

Saturday, September 19, 2015

To Be Loved

3 comments
Have you ever feel you're the odd man out among your friends?
Once again, that's my everyday. In every circle.

Your friends, they are attractive, they are charming inside out, they are beautiful.
You, well.
You're the wise one who gives every best advice they can get.
You're the clown one who makes everybody laughs. 
But yet, you have nobody.
You don't even remember how to love, how it is to be loved.
Everyone leaves you everytime they take pieces of you.
You are torn apart.
You lost yourself being someone else trying to be what she wants.
But she's not even worth it.
They're not even worth it.

So you keep yourself locked away.
Nobody can't even reach you.
Nobody can't even touch you.
Their voices not even tip the very surface of your ear.
They left you one by one, yet you don't give a shit.
Because, you get used to it.
You keep punching yourself.
You keep letting people punch you.
All just because you're already numb, inside out.

They keep coming.
Keep coming.
Keep coming.
Keep coming.
Keep coming.
Keep coming.
Keep coming.
Keep coming towards you.
Taking pieces of you.
Keep breaking promises.
Knowing you'll never run out of patient.

Loving,
Until the noose comes to your neck.
Until the sword comes to your cord.
Until the bullet finds its way to your brain.

Maybe this kind of love I will always get.
Because hey, who doesn't love to be loved? ;)

Sunday, September 13, 2015

Full/Half Eyes

0 comments
When everybody around you is a friend,
You don't even want it to end,
Showing scars and trying to heal them,
Never been in a chaos or mayhem,
You see everything so clearly,
Doing daily activities normal and ordinary,
Sleep tight not waking up at midnight,
Not losing any of the sight,
Trying to be cool and trying to be nice,
That's full eyes.


Having these insecurities in every crowded places,
Your stomach so hurt that you can barely throw feces,
The wounds won't even healing,
Just pray to god for the sooner calling,
Throwing anything until your room is a mess,
Nobody couldn't even careless,
You can barely sleep struggling with your own thought,
Makes you wonder for who you fought,
Living everyday with these anxieties and lies,
Now that's half eyes.
0 comments

Thursday, September 10, 2015

'The' Cycle

0 comments

This is, the only cycle I believe what happens nowadays.

I better start with the jerk.
As you can see;

The jerk, fucked the good girl.
The good girl, becomes the bitch.
The bitch, fucked the good guy.
The good guy, becomes the jerk.
....and so on.

Just guess what phase I am in.
The phase I'm not trying to be.
Fortunately, there isn't the 'dead' phase (yet) there.

Sunday, September 6, 2015

Time's Up

0 comments
I kinda wonder,
Why are you all so kind?
I mean,
You're all helping me,
To be like this,
For still having these feelingless minds?
To be such hypocrites,
To lie and hurt me countless times,
Instead of making me bigger and better?

I'm still grateful, though.
I'm thanking all of you,
For everything you did,
For everything you didn't do.
It makes me stronger, at the same time;
Destroyed me.

While timing is a bitch,
When life's nothing but timing.
Until I reach my breaking point.

Well, what's the point of living, anyway?
That's my watch you see.

Just like crackers,
Just like corroded steel,
Just like rusty planks,
Just like, promises.

My watch. No. My time - my faith - is broken.
Coincidence or not, the crack located on my very vein.
A sign? Or maybe is it all a vain?

Friday, September 4, 2015

Guilty (My) Pleasure

0 comments
I tell them the truth and what they wanna hear, at the same time.
It's not a lie, or even a crime.
Blame myself not torturing your own mind.
I'm not any special, moreover one of a kind.

Have you ever been in a crowd,
But you're feeling lonely,
Lonelier than you ever were,
That you decide to move away,
Lock yourself in a room,
Being quieter than any space,
At the same time,
It's the loudest room you ever be in,
Just you, and your thoughts,
Suicidal thoughts; to be precise?

Afraid to go out,
To see the world,
Pushes away every single person that get near you,
Mentally,
Kicks away every positive thoughts,
That trying to get inside your mind,
Or even physically,
When your brain and your soul don't match,
At all.

That's my everyday, though.

Thursday, September 3, 2015

Tiada Matahari

0 comments
Ya, hari ini juga hujan.
Cucian hari ini pun susah untuk kering.
Terperangkap dalam kotak sederhana.
Hari ini serba merah dan sedikit terlambat.

Semudah itu mengatakan,
"Setidaknya aku sudah meminta maaf."

Indahnya paras membuat lupa bahwa ini dunia fana.
Sekaligus semudah itu berbuat kesalahan.
Kita berpindah kamar namun tak bergerak kemana-mana.
Entah apa yang direncanakan untuk kaum Adam dan Hawa,
oleh Tuhan.

Selalu tentang harta, tahta, wanita.
Berpura-pura tidak peduli, seakan tak acuh.
Sampai kapan?

Janjikan satu hal;
Namun bukan hari ini.

Thursday, August 13, 2015

Red Cross

0 comments
We both unsure, but believe each other at once.
All these classy food, all these fancy things.
Even the future's still blurred and for the beloved ones.
Every time we spend, every unbound links.

Thank god you're grown up I know so far.
Unlike before people drawing scars.
I don't even need typing any space bar.
Beside that swimming pool under the stars.

You were scared at first and didn't even talk.
So much until the liquor effect came up.
Until we feel it not enough then take another walk.
Another glass of beer, another coffee cup.

I won't fix you and you won't fix me.
We fix each other and let us be.
It's just our own world don't care what they see.
I won't let you down on your own knee.

Friday, July 31, 2015

Thousand Ways To Say I Love You

0 comments
"Have a great day."
"Sleep early. Sleep tight. Don't let the bed bugs bite."
"Have a dinner with me."
"Would you mind telling me your story?"
"Don't rush it."
"Have a safe drive."
"Don't be an asshole."
"Take care."
"I'm (still) waiting."
"Thank you for your concern."
"Be brave."
"Did you bring anything you need?"
"Here's your thng."
"Thank you."
"I just want you to be happy."
"Play it safe."
"It's for your own good."
"Have a great life."

In every context, in everyone's sentences.
It could be complex words, or even the simplest words.
In every drop of coffee, in every knit of a tee.
It could be learnt in a hard way, or even in coincidence events.
In every long drives, or even in small steps you take.
It could bring out big smile and laugh, or even drama tears.


Reminding
Warning
Shouting
Whispering

There are literally thousands and thousands way to say,"I love you."


Hang on, you're almost there. We're almost there.

Tuesday, July 28, 2015

Menjemput Mentari

0 comments
Kamu, kami dan seluruh gelombang yang berdiri.
Celah sempit dari balik pintu yang menjemput mentari.
Datang dengan kebisuan namun diam-diam menyengat.
Di antara panas dengan arah dan koordinat.

Sekian langkah pada jemari penggenggam hati.
Berlari sekian jauh hanya untuk diam di tempat, lalu? Mati.
Peti kayu berselimutkan keraguan berlapis tiga papan.
Sampai akhirnya tidak bisa membedakan belakang dan depan.

Tersulut api cemburu hingga kepala ini meledak.
Kau dan mereka berhasil apabila memang ingin membuat tersedak,
Tersengat listrik pada beberapa titik vital yang saling berbagi.
Kami.... Bukan. Aku, tidak dapat menahannya lagi,

Ketika sampai atau melampaui titik jenuh.
Baik pada keadaan setengah terisi, atau setengah penuh.
Tak akan keluar,
Tertutup pintu ini malam ataupun pagi.
Aku memutuskan untuk pergi dan tak akan kembali lagi.

Thursday, July 9, 2015

Penjahat Itu Bernama Jarak

0 comments
Bukan tentang angka ataupun ukuran.
Fisik tidak membatasi langkah serta panjangnya jalan.
Terkadang jauh berarti dekat, berlaku pula sebaliknya.
Jangan artikan secara harafiah penuh tanda tanya.

Lintas pulau bisa memiliki banyak arti, bahkan pelajaran.
Tergantung sejauh apa pendekatan dan perjuangan.
Sejengkal bisa sepenuhnya membisu tanpa percakapan.
Bilamana memang memutuskan atau tidak memiliki ikatan.

Tanah rantau dengan beberapa luka.
Kata dan kalimat yang merupakan kicauan belaka.
Bukan pedang ataupun senjata pusaka.
Aku -kita- berada di paling atas lalu terjatuh seketika.

Terbawa alunan syahdu berisi cacian.
Senandung maaf memicu paru-paru dengan sedikit sentakan.
Membawa arti puluhan bahkan ratusan tahun kemudian.

Bahwa jiwa ini bukan lintasan garis terakhir.
Hanya sebuah tempat pemberhentian sementara.
Bagian kecil bab dari sebuah buku.
Ketika kuanggap dia judul sampai kalimat penutup. 

Tuesday, June 16, 2015

Mata, Sendi dan Ekspresi

0 comments
Image result for i origins

Kamu pernah melihat mata seseorang?
Ini pertanyaan retorika, tak usah dijawab.
Pertanyaan sebenarnya;
Kamu pernah benar-benar melihat mata seseorang?

Ada yang bilang mata terhubung dengan jiwa, di manapun ia berada.
Mata menunjukkan ketulusan, kejujuran, kemunafikan seseorang, semua orang.
Pergerakan seluruh otot, syaraf bahkan ujung rambut;
Semua berawal dari mata.

Ketika mulut berkata bahwa ia paling benar,
Maka mata akan bereaksi apakah itu menyetujui atau bahkan menyangkalnya.
Akan diteruskan lagi ke seluruh tubuh dari seorang insan.
Bahkan, membaca detak jantung.

Air mata? Jangan pernah salahkan air mata.
Semudah membaca apakah air mata itu jatuh;
Melalui mata sebelah kanan, ataupun sebelah kiri.
Semuanya terbaca. Sangat jelas.

Dari situ, mata membaca waktu.
Waktu yang tepat, sampai eksekusinya.
Mata akan berbicara lebih dari seseorang itu sendiri.
Sampai kelopak akan menghalangi semua visual,
Baik sementara,
Ataupun selamanya.

Wednesday, June 10, 2015

Letak Kesendirian

0 comments
Tiada yang mengetahui, bahkan kesepian itu sendiri.
Apa artinya sendiri?
Tidak bersama orang lain; itu sepengetahuanku.
Jadi, maksudnya waktu sendiri itu apa?
Waktu bersama orang lain? Loh, tidak sendiri dong?
Kalau begitu, apa sendiri = bersama orang lain?

Ini membingungkan.
Entah telingaku yang salah, atau otakku yang agak meragu.
Atau mungkin, hanya aku yang salah menginterpretasikannya.

Jadi, di mana letak kesendirian itu?
Di kepala?
Di dalam dada?
Di otak sebelah kanan?
Di dalam hati nurani?
Di sepanjang pembuluh darah?

Aku meminta untuk kau bercermin. Kau meminta balik untuk aku bercermin.
Dengan licik aku mengintip. Aku melihat kau bercermin dari kejauhan.
Apa yang kulihat?
Aku melihat aku yang dulu, di dalam refleksimu, jauh di dalam matamu....
Jauh di dalam benakmu.

Bukan, hal itu bukan sendiri.
Bukan kesendirian, maupun kesepian.
Itu pelampiasan.

Tuesday, June 9, 2015

Masalah Kepercayaan Diri

0 comments
Sebenarnya udah lama punya pikiran kayak gini. Dari lahir, mungkin? Tapi keadaan dan mood sangat memungkinkan untuk akhirnya gue putusin untuk nulis tentang ini.

Ya. Kepercayaan diri. Masalah yang dari dulu gue punya. Lebih ke fisik sih, sebenernya. Dari kecil gue jelek, gendut, pendek, item, model rambut semacam siluman kelereng (all rights to Raditya Dika) dan lo tau? Gue dari dulu dikatain "fat ass" (ditulis dalam bahasa Inggris untuk mengurangi bahasa yang kurang sopan dan menyakiti diri sendiri). Pokoknya semua yang jelek lah secara fisik ada di dalam diri gue. Karena alasan itulah gue mencoba menutupi semua itu dengan menjadi humoris, melakukan hobi gue dengan jadi pinter, olahraga dan musik. Lo semua lah ya yang menilai apakah gue berhasil dalam semua bidang itu.

Pertama kali, pas SMP ada yang bilang suka sama gue, nggak langsung dari dia, tentunya, gue tau dari temennya. Gue shock. Dia putih, kurus dan cantik. Bayangin seorang yang seperti itu bisa suka sama gue. Ya, dia pacar pertama gue dan nggak berlangsung lama kok. Sampe akhirnya mantan gue yang gue ceritain yang 5 tahun itu. Jujur, dia biasa aja secara fisik, tapi emang menarik perhatian gue dari inner beautynya. Gue, bahkan sampe sekarang, gue tau ini salah dan bisa dibilang gue nggak pantes ngomong gini. Gue membuat 'level' gue sendiri. Gue merasa sangat tidak pantas kalo bersama yang levelnya di atas gue. Yang mana itu yah cantik, putih, eksis, pokoknya semua yang cowok inginkan dari seorang cewek lah. Shock kedua gue adalah ketika kelas 8 ke kelas 9, di mana dia sekelas, dia eksis parah, cantik, inceran semua cowok, wushu dan kelebihan lainnya lah, dua temen dia dan temen gue juga, bilang kalo dia suka gue. Di pikiran gue,"ITU MUSTAHIL WOY". Tapi ya tanda-tanda kalo dia suka sih emang keliatan, dengan intensnya dia ngehubungin gue dan bahkan bilang gamau pisah kelas sama gue. Tapi tetep di angan gue selalu bilang, "ITU MUSTAHIL WOY".

Alasannya? Kenapa gue ngerasa kurang pantas yang levelnya di atas gue? Oke.
Pertama, gue ngerasa kalo gue bakal ngecewain. Dia bakal ngerasa malu jalan sama gue yang bahkan (menurut gue sih) don't know how to dress well ala-ala cowok-cowok mesos di luar sana.
Kedua, gue takut dia bakal dengan mudah direbut sama cowok lain dengan gue merasa nggak akan pernah cukup ada untuk dia, lahir maupun batin dan ini didukung poin pertama tadi. Dengan kelebihan dia itu dengan mudahnya cowok lain bakal suka sama dia dan gue gatau kan di dalam perasaannya dia gimana?

Iya. Sebenernya gue masih bertahan dengan prinsip,"Kalo dia sayang, dia pasti bakal bertahan." Tapi itu nggak jaminan. Seperti yang udah pernah gue bilang, gue nggak mau berekspektasi lagi. Daripada mikir tinggi tapi kecewa.

Kan, melenceng dari topik kan. Balik ke topik deh.
Mindset kayak gini gue bawa, bahkan sampe sekarang. Walaupun banyak sebenernya yang bilang (beberapa sih, nggak banyak) gue ganteng lah (HAHA BULLSHIT), gue good looking enough lah, ketika gue bilang,"Katanya ada yang suka sama gue" ke salah satu temen cewek gue, doi bilang,"Berarti lo nggak sejelek yang lo pikir, Bang". Tetep aja minder. Gue merasa gue nggak akan pernah cukup buat seseorang, dengan bukti yang ada selama hidup yang gue jalanin dan sekarang sedang sangat gue rasakan. Gue ngerasain gue sering dikecewain. Sejujurnya, bukan sering, jarang tapi sekalinya dikecewain: BEUUUH DAHSYATNYA~. Itu sih sebenernya yang bikin gue feelingless. Men, susah yha kalo punya perasaan.

But it's just me and my insecurities, just let us be.
9/6/2015, 10.03 PM, first update.

Wednesday, June 3, 2015

Forgive But Not Forget

0 comments
FALSE

It's forget but not forgive, ah.
But once again, It's perspective.

I mean, just.... come on.
How can you say you forgive,
when you still talk about it?
when you still bragging about it?
when I, obviously don't do it anymore?

You saw the impact.
I didn't sleep, I can't. I didn't eat, I lose my appetite. i even collapsed.

You said you want the old me, the better me.
And you said if I keep getting worse, you feel pity, not love.
And you made me do it. It's a big deal, you know.

If you try on taking revenge,
If you are trying to hurt me,
Good. You are very succeed. Mission accomplished.
If you still not satisfied, please. Time it.
And get back to my life, like our (second) first met.

You took almost everything in me, brought back the old me.
I'm so fucking grateful, if you ask me.
That's something I always wanted since I entered this institution.
That's something I always wanted since she fucking left me.
That's something I always wanted since we've gone THAT far.

But I can't do it,
Not when you said you waited outside my door.
But I opened the door, stay inside and seeing you....
with someone else.

That's me when I fall for someone, once again.
I drop everything for her.



P.S: Sorry for all those fucking swearing.
Just kidding, I'm not fucking sorry.

Tuesday, May 26, 2015

Mungkin

0 comments
Mungkin;
Aku lupa caranya mencintai.
Bukan berprasangka buruk, hanya khawatir.
Kau yang pertama, dalam sesuatu yang krusial,
atau mayoritas orang pikir itu sakral.

Aku tidak ingin semua terjadi untuk kedua kalinya.
Tolong, kita prioritaskan proses dan bukan hasil.
Kita melangkah dengan nada yang berbeda,
tapi saling mengharmoniskan.

Tolong aku, aku terjebak.
Tuntun aku, aku tersesat.

Sudah lama tidak merasakan terbakar cemburu.
Lama tidak merasakan sakit karena kaum hawa.
Lama tidak merasakan ketirnya air mata.
Sudah lama tidak.... merasakan.

Tolong. Aku di depan pintu ini.
Jangan biarkan tangan ini mengambang,
yang ditujukan menjemputmu.
Di sebuah ruangan hangat yang lama tidak terjangkau.

Aku mendekati akhir, lagi.
Jangan biarkan ini berakhir.
Aku sayang kamu, dan nyawaku.
Yang saat ini sangat mudah hilang dan diambil,

Mungkin.

Thursday, March 19, 2015

NPF

2 comments
Jumat, 20 Maret 2015. 09:15.

NPF? Apa itu?

Inisial, nama seseorang yang dikagumi oleh insan ini. Hanya mengagumi dari jauh dan tidak bisa melakukan apa-apa.

Semua dimulai dari kampus. Semua dimulai dari aku yang hanya berani melihatnya dari kejauhan. Di situ aku menemukannya dan hanya memandang, seperti biasa. Namun ada yang ganjil, dia menatap balik! Panik, cemas, takut dan segala perasaan negatif bercampur aduk. Kabur, kabur sejauh mungkin dari tatapannya . Di ujung jalan, teman-temannya menghalangi jalur, membuat sudut buntu. Teringat sejenak, ketika dia menatap balik dan tersenyum dan senyuman? Memiliki banyak arti. Terlalu keras berpikir, membuat dia berhasil menyusulku. Dia membiarkan teman-temannya melangkah menjauhi.Dia mengajakku berbincang, namun lebih seperti saling mewawancarai. Mental dan keberanian terletak pada puncaknya, aku menanyakan pertanyaan krusial dan dia menjawab "YA". Bayangkan saja seperti apa bahagia seorang pengagum rahasia menjadi sebuah pendamping. Bibir kami berpagutan dan semua berakhir....

....saat aku terbangun pagi ini.

Friday, February 27, 2015

Sebuah Balasan

0 comments
Kamu, tanpa nama.

Karena kamu tidak bertanya dan ini pun bukanlah sebuah jawaban.
Aku hanya menulis karena terpikir semua yang kamu katakan.
Sekarang kukembalikan semua pertanyaan kepadamu,
Pernahkah kamu dikhianati? Setidaknya, merasa dikhianati?
Apabila pernah, apakah sesakit ini?

Oh. Mungkin kamu mungkin tidak tahu rasanya.
Atau mungkin kamu mengalaminya, namun sudah lama.
Atau mungkin kamu tahu cara mengatasinya.
Sayang, aku tidak tahu.

Tulisan mana yang kamu baca?
Logika dan naluri telah kehilangan arahnya. Berdamai? Maaf.
Muda dan pintar? Itu perspektif kamu.
Perspektif? Di sini kugarisbawahi.

Terlalu banyak penyakit yang aku dapat dari bersifat jujur.
Beruntung? Aku telah kehabisan itu.
Bicara tentang teman baik, memangnya aku (masih) punya?
Oh. Mereka.

Kuberitahu satu hal, meskipun aku sepanjang hari bersama mereka,
Aku tidak pernah menganggap mereka teman.
Dengan ini aku tidak usah merasa bersedih apabilan ditinggalkan, (lagi).
Dia memutuskan koneksi duniaku dengan orang lain.

Maaf, semua kata-kata kamu kutepis, sama seperti kata-katanya.
Kalau kamu mampu menghentikan semua mimpi buruk ini,
Kita bicara empat mata.

Monday, February 16, 2015

Kamu; Munafik

0 comments
Ya, kau tidak (hanya) membandingkan.
Kau merendahkan,
Kau menjelekkan,
Kau menghina,
Kau menginjak-injak.

Kehadirannya;
Menghapus semua kehadiranku,
Membuatmu lupa semua niat baikku,
Yang kau ingat hanya semua cacatku,
Kau lupa kita yang saling membentuk diri kita yang sekarang.

Aku hanya ingin kamu sedikit di depanku, namun tetap di sampingku.
Tuntun aku,
Genggam tanganku,
Hilangkan semua gundah dengan senyummu,
Sayangi aku.

Atau mungkin kamu lupa;
Bahwa pria bukan makhluk yang kebal,
Bahwa jarak itu kejam,
.... dan kamu memutuskan pergi meninggalkan,
.... dan bukan menetap.

Berbicara tentang jarak;
Kau memanfaatkan jarak,
Kau memilih yang ada,
Kau menyerah.

Mungkin kamu membenci flashback, tapi;
Apa kau lupa mengapa aku merantau?
Apa kau lupa itu semua untukmu?
Mengapa tidak kau cegah?
Apa yang harus aku ubah?
Apa (saja) yang kau lihat dari orang lain dan tidak ada padaku?
Mengapa membisu?

Mengapa? Memilih menjadi perwujudan sempurna dari kata munafik?